Peran CIO Pemerintah meningkatkan produktifitas digital native worker pemerintahan

Ilustrasi digital natives (gambar di ambil di sini)

Kamus online oxford mendefinisikan digital natives atau pribumi digital sebagai orang yang lahir atau tumbuh dewasa bersamaan dengan berkembangnya teknologi digital dan sangat akrab dengan komputer dan internet sejak usia balita. Sedangkan digital immigrant didefinisikan sebagai orang yang lahir sebelum atau dewasa sebelum berkembangnya teknologi digital.

Terminologi tersebut pertama kali dicetuskan oleh Marc Prensky, seorang visioner, inventor, penulis, pembicara, desainer game pendidikan dan pembelajaran, pada tahun 2001. Pribumi digital tumbuh dan berkembang dengan dikelilingi berbagai perangkat digital mulai dari komputer, internet, email, video games, pemutar musik digital, kamera video, telepon selular.

Sekarang nampak jelas dengan berbagai perangkat digital yang tersedia disekitarnya menjadikan pribumi digital berpikir dan mengolah informasi yang secara fundamental berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Pekerja generasi pribumi digital memiliki kemampuan menerima informasi yang sangat cepat dibandingkan generasi imigran digital. Kemampuannya untuk memproses informasi secara paralel dan multitask. Mereka lebih menyukai grafik daripada teks. Sebaliknya Imigran digital secara umum cenderung untuk memproses informasi step-by-step dan kemampuan menerima, memproses informasi digital secara lebih lambat.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2012 oleh Time Inc, sebuah divisi dari Time Warner, menyebutkan bahwa pribumi digital adalah kelompok yang tidak pernah istirahat, berpindah-pindah dari platform media (TV, majalah, tablet, smartphone atau saluran media pada platform tersebut) sebanyak 27 kali per jam. Yang berarti bahwa mereka berpindah-pindah mengakses berbagai platform media setiap 2 menit sekali. Sedangkan imigran digital sebanyak 17 kali/jam yang berarti setiap 3 menit sekali. Pribumi digital memiliki keterlibatan emosional dan respon emosional yang rendah terhadap konten yang mereka konsumsi. Pada kenyataannya mereka menggunakan media untuk mengatur suasana hati mereka, mood serta mengalihkan perhatian pada platform media yang lain setelah lelah dan bosan.

Baca lebih lanjut