Hidup tanpa handphone…

Bagi anda yang memiliki HP, berapa lama anda bisa bertahan tanpa membawa HP? sejam, dua jam, sehari atau bisa bertahan sampai berhari-hari? Seperti yang disebutkan di sini, banyak orang yang sangat tergantung dengan HP, bahkan ada yang lebih memilih tidak membawa uang daripada tidak bawa HP atau yang lebih ekstrim 10 menit tanpa HP serasa terkucil dari dunia luar.

Klo saya sendiri, dihitung-hitung sudah 10 hari-an ini HP-ku sengaja tidak diaktifkan sejak awal tahun 2007 sampai sekarang. Penyebabnya tidak lain adalah chargernya si HP ketinggalan di rumah mertua. Bertepatan liburan idul adha dan tahun baru kemarin saya dan istri memilih untuk mudik ke ponorogo, sekaligus silahturahmi ke mertua dan keluarga besar istri di sana. Meskipun barang bawaan yang akan dibawa balik ke surabaya sudah di cek satu persatu sewaktu packing, namun ternyata si charger “memilih” untuk tidak ikut balik ke surabaya. 😀

Dimasa sekarang HP bukan sesuatu yang dianggap barang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang berduit. Para pemulung-pun sekarang sudah banyak yang memiliki HP, begitu juga dengan tukang-tukang becak yang ada dipinggir-pinggir jalan. Penduduk desa sekarang juga tidak mau ketinggalan, dari jalan-jalan di dunia blog, saya pernah membaca di multiply-nya bundanya kirana juga bercerita kalau beliau pernah diminta membantu mengirimkan paket HP milik seorang TKI (gelap) untuk saudaranya yang ada di kampung.

Baca lebih lanjut

Iklan

Peran TI dalam kesuksesan implementasi SPK

Saat ini peranan vital Teknologi Informasi (TI) dalam bisnis memang tidak bisa dibantah lagi. TI menjadi sarana yang saling menghubungkan setiap komponen bisnis. Namun apakah TI juga memiliki peranan dalam menentukan implementasi sistem pengelolaan kinerja (SPK) di perusahaan ? Pengalaman saya ketika tergabung dalam tim konsultan dalam membantu perusahaan-perusahaan dalam mengembangkan sistem pengelolaan kinerja membuktikan hal tersebut. Sangat sulit (namun tidak berarti tak mungkin dilakukan) jika implementasi sistem pengelolaan kinerja tanpa menggunakan bantuan TI.

Sebuah perusahaan listrik di wilayah sumatra memiliki cabang-cabang yang tersebar di 3 provinsi. Tanpa bantuan TI sangat sulit mengetahui kinerja masing-masing cabang ini secara cepat. Padahal informasi kinerja masing-masing cabang perlu segera diketahui untuk digunakan sebagai salah satu pertimbangan ekskutif dalam mengambil kebijakan bisnis. Padahal kondisi lingkungan bisnis juga turut berubah dengan cepat, tentu saja kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus terjadi. Solusinya adalah implementasi SPK dengan menggunakan aplikasi yang berbasis web. Dengan menggunakan aplikasi yang berbasis web, masing-masing ranting dan cabang meskipun berada di tempat yang jauh dari kantor pusat bisa melaporkan kinerja masing-masing dengan mudah. Sehingga kinerja perusahaan lebih dini bisa dilaporkan dan pimpinan perusahaan bisa mengambil keputusan dengan bantuan data kinerja yang paling anyar.

Baca lebih lanjut

Soichiro Honda : "Lihat Kegagalan Saya”

Artikel ini diambil dari postingan email di sebuah milis…

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya.Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobilmaupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas,sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.

Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda -Soichiro Honda – diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantanPresiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas,duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.”Nilaikujelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena duniasaya disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini,yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo,Tokyo, akibat mengindap lever.

Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga seringbermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yangmenjadi motor penggeraknya.Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diriberjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanyaingin menyaksikan pesawat terbang.Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif.Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri. Baca lebih lanjut