Puasa & zuhud


Ketika jaman SMU dulu saya ikut mengaji kerumah salah seorang guru ngaji di kampung. Kami hanya mengaji alqur’an saja, membaca qur’an dengan tartil kemudian dilanjutkan dengan mengkaji setiap ayat di mulai dari ummul qur’an, surat al fatihah, dilanjut ke surat al baqarah dan begitu seterusnya. Pada suatu malam ketika kami duduk-duduk selepas tadarus al-qur’an beliau berkata: “golekono galihe wit kangkung” yang terjemahan dalam bahasa indonesia berarti carilah inti dari sayur kangkung.

Kangkung yang nama resminya dalam bahasa latin adalah Ipomoea aquatica adalah sejenis tumbuhan yang masuk dalam kategori sayuran. Tanaman ini banyak terdapat dikawasan asia dan banyak tumbuh pada tempat berair. Secara fisik kangkung adalah tumbuhan yang menjalar dengan bentuk daun tirus, dengan batang yang berongga yang sering disebut sebagai plompong. Sayuran ini sering ditumis atau bobor maupun dikukus sebagai lalapan sambal.

Kalau kita lihat batang kayu jati, galih/inti kayu jati adalah bagian yang paling keras dari seluruh batang pohon. Inti kayu jati tersebut secara mikroskopik memiliki pori-pori yang rapat dan semakin tua umurnya, inti tersebut semakin besar. Lantas apa inti dari sayur kangkung ? Kangkung tidak memiliki inti apa-apa, hanya ronggo kosong yang berisi udara saja. Lantas apa makna dari kata-kata golekono galihe wit kangkung tadi ?

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Barangsiapa mencintai dunia, maka dia merusak akhiratnya, dan barangsiapa yang mencintai akhirat, maka (seolah-olah) membinasakan dunianya. Maka, utamakanlah yang kekal (akhirat) daripada yang fana (dunia).” (HR Ahmad dan Baihaqi). Guru ngaji memberikan arahan untuk lebih mencintai akhirat dengan berlaku zuhud. Orang yang berlaku zuhud sama dengan orang yang mengosongkan diri dari keinginan-keinginan yang memalingkan diri dari urusan akhirat. Segala aktivitas hidupnya didunia hanya ditujukan untuk kepentingan akhirat kelak. Hal tersebut beliau persamakan dengan inti kangkung yang berupa rongga kosong, mengosongkan diri dari keinginan duniawi yang memalingkan diri pada Allah SWT. Karena dunia itu tidak kekal, akhiratlah yang kekal. Urusan duniawi harus membawa manusia pada kepentingan diakhirat kelak.

Zuhud tidak berarti meninggalkan dunia, mengasingkan diri dari kegiatan dunia dengan pergi kehutan atau ketempat-tempat yang sepi jauh dari keramaian. Islam tidak mengajarkan untuk berlaku seperti pertapa-pertapa yang mengasingkan diri dari keramaian. Abu Sulaiman al-Darani menyatakan zuhud adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan diri dari Allah Swt. Menurut imam Ahmad bin Hanbal zuhud ada 3 macam, yang pertama, menjauhi perkara-perkara yang haram, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya orang ”awam”. Kedua, menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam hal yang dihalalkan, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya orang khawash. Ketiga, untuk menjauhi apa pun yang memalingkan sang hamba dari Allah, zuhud seperti ini merupakan zuhudnya ”arifin”.

Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk mulai membiasakan hidup zuhud. Dengan puasa manusia dididik untuk tidak berlaku serakah, mengontrol hawa nafsu, banyak-banyak melakukan sedekah. Dengan menyandarkan semua aktivitas yang dilakukan semata-mata mencari keridhaan Allah SWT dan menghindari diri dari setiap prilaku yang bisa melalaikan hamba pada penciptanya.

Namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya bulan ramadhan adalah bulan dimana kaum muslimin berprilaku yang paling konsumtif diantara bulan-bulan lainnya. Buka dan sahur dengan berbagai menu tersedia lebih lengkap dan lebih banyak dibandingkan dengan hari-hari selain ramadhan. Sehingga kita tidak heran jika nabi pernah menyampaikan banyak orang yang puasa namun tidak mendapatkan apapun selain dari lapar dan haus. Sedangkan menjelang akhir ramadhan ramai-ramai membeli baju-baju, perhiasan dan pernak-pernik baru yang bukan tidak mungkin secara sadar maupun tidak sadar tujuannya adalah supaya pada hari lebaran nampak bagus dihadapan orang lain. Tanpa sadar telah berlaku riya’/pamer, padahal riya’ adalah salah satu syirik kecil. Sehingga hasil dari tarbiyah ramadhan satu bulan penuh hanya berupa pakaian dan perhiasan baru. Naudzu billahi min dzalik, semoga Allah SWT menjaga kita dan keluarga kita dari hal yang demikian dan senantiasa membimbing kita dalam kebaikan dan taqwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s