Perang raksasa media di surabaya…siapa yang menang ?


Sudah dua mingguan ini ada sesuatu yang sedikit berbeda di sepanjang jalan raya darmo surabaya. Apa lagi kalau bukan adanya kampanye tertib lajur kiri yang digagas oleh polwiltabes surabaya berkerjasama dengan jawapos. Sepertinya kampanye tertib lajur kiri ini adalah kelanjutan dari kampanye safety riding yang sudah lebih dulu dilakukan. Sebagai penarik minat ada undian berhadiah yang diperuntukan bagi pengendara motor yang menggunakan lajur kiri. Sebagai pihak yang terlibat dalam kampanye tersebut, jawapos menempatkan krunya dan memasang berbagai atribut di sepanjang jalan raya darmo pada setiap rentang 5 – 10 meter. Selain itu juga disediakan kotak-kotak tempat mengumpulkan kupon undian. Setiap kru yang ditugaskan juga dibekali dengan formulirnya undian dan tentu saja koran jawa pos. formulir undian yang akan disertakan terlebih dulu harus ditempel dengan stiker yang terdapat di koran jawa pos.

Namun tadi pagi ada sedikit pemandangan yang berbeda ketika saya melintas raya darmo. Di sela-sela kru jawapos yang berdiri dalam radius 5 – 10 meter terdapat juga orang-orang yang menjual koran kompas (untuk mudahnya kita sebut saja kru kompas). Yang menarik kru koran kompas juga di lengkapi tulisan besar “KOMPAS Rp. 1000” untuk menarik perhatian pelintas jalan. Bandingkan dengan harga koran jawapos yang dibandrol Rp. 3000. Wah…benar-benar the real battle neh😀 .

Saya pernah membaca tulisan salah seorang pengamat (sayang sekali saya lupa detilnya)., beliau mengatakan bahwa adalah bukan merupakan rahasia lagi kalau sejak dulu antara jawapos dan kompas memang terjadi persaingan bisnis yang ketat. Sejak dulu kompas, yang menguasai bisnis media di jakarta, berusaha untuk masuk ke jawa timur khususnya surabaya. Merasa gagal kompas melawan dominasi jawapos lalu kompas mendirikan koran surya untuk bertarung head-to-head dengan jawapos. Namun sepertinya keperkasaan jawapos di kandangnya sulit untuk di tandingi oleh koran surya, sehingga sejak 2-3 tahun yang lalu akhirnya kompas “kembali” mencoba merobohkan hegemoni jawa pos dengan memberikan suplemen koran “seputar jatim” pada koran kompas yang beredar di jawa timur.

Lantas bagaimana strategi jawapos dalam menghadang laju kompas ? Masih menurut be liau, merasa tidak mampu menghadapi kompas di jakarta, jawapos memilih untuk memperkuat hegemoninya di daerah-daerah. Hal ini mereka wujudkan dengan mendirikan koran-koran yang mereka namakan dengan radar. Entah mengapa mereka memilih nama radar, mungkin karena koran-koran tersebut ingin mereka fungsikan seperti radar yang bertugas untuk memantau musuh bisnis mereka. Di jawa timur sendiri terdapat banyak koran radar seperti radar tulungagung, radar madiun, radar mojokerto, radar surabaya dan lain sebagainya. Di propinsi lain jawa pos membentuk media grup yang menggandeng koran-koran lokal seperti solo pos di kota solo dll. Merasa posisinya di daerah-daerah sudah kuat, baru jawapos berani merambah jakarta. Kali ini mereka menggunakan strategi yang sama seperti yang digunakan kompas yaitu dengan mendirikan koran indopos untuk menggerogoti hegemoni kompas di jakarta.

Jawapos juga kreatif dengan meluncurkan suplemen deteksi. Deteksi khusus ditujukan untuk anak muda terutama pelajar smp & smu serta mahasiswa. Pada awalnya deteksi hanya memuat hasil survey dikalangan anak muda mengenai topik yang menarik dikalangan mereka. Namun dalam perkembangannya deteksi mulai merambah ke topik-topik lain seperti membahas mengenai modifikasi otomotif, perkembangan gadget, komik. Selain itu deteksi juga aktif mensponsori berbagai event yang tentu saja ditujukan untuk anak muda. Seperti menggelar event lomba bola basket untuk pelajar SMU se-jawa timur, dan pagelaran musik dan lain sebagainya. Sebelum kampanye lajur kiri, jawa pos juga pernah menjadi patner polwiltabes surabaya pada kampanye safety riding tahun lalu.

Di sisi lain dibandingkan dengan jawa pos, kompas sepertinya kurang bisa memahami selera dan gaya pemberitaan masyarakat jawa timur. Inovasi-inovasi seperti yang dilakukan oleh jawa pos dengan menggelar berbagai event dan melakukan inovasi konten berita nampaknya jarang dilakukan serta hanya sedikit sekali mendapat perhatian oleh kompas. Mungkin hal ini yang membuat kompas tidak bisa meruntuhkan hegemoni jawapos di surabaya. Seperti apa persaingan antara kedua raksasa media ini nantinya ? Tentunya akan semakin menarik untuk disimak seperti yang telah diwakili oleh kru kedua koran tersebut yang secara selang-seling menawarkan koran mereka di sepanjang jalan raya darmo pagi hari ini.

Blogged with Flock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s