Pembobotan KPI secara langsung atau dengan AHP ?


KPI yang dihasilkan dari penurunan visi misi organisasi melalui strategy map harus di konsolidasikan untuk membentuk sistem pengelolaan kinerja yang konprehensif. Konsolidasi KPI dilakukan dengan mengelompokan KPI dalam keempat perspektif BSC serta membobotkan KPI-KPI tersebut. Pembobotan KPI perlu dilakukan agar fungsi-fungsi proses bisnis organisasi yang diukur menggunakan KPI bisa berjalan dengan baik.

Pembobotan KPI dilakukan dengan melihat tingkat kepentingan proses bisnis kritis organisasi yang diukur melalui KPI. KPI yang memiliki tingkat kepentingan tinggi (urgent) pada proses bisnis organisasi mendapatkan prioritas yang lebih. Demikian pula dengan KPI-KPI yang mendapatkan nilai kinerja jelek juga sebaiknya dinaikan bobotnya.

Ada dua model pembobotan KPI yaitu pembobotan secara langsung (direct weighting) atau menggunakan AHP (Analytic Hierachy Process) . Artikel ini tidak akan membahas secara detail mengenai AHP (pembahasan mengenai metode AHP Insya Allah akan ditulis di artikel yang lain). Pembobotan direct weighting sesuai dengan namanya dilakukan dengan memberikan bobot (dalam satuan prosen %) pada setiap KPI secara langsung sedangkan pembobotan menggunakan AHP dilakukan dengan membandingkan antar KPI dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan (pairwise comparisson). Total bobot semua KPI harus 100%, total bobot yang lebih dari 100% atau kurang menyalahi konsep pengelolaan kinerja. Bobot KPI tidak boleh bernilai minus (-).

Saya ada pengalaman menarik tentang pembobotan KPI pada saat tergabung dalam team implementasi SPK di sebuah kantor wilayah salah satu perusahaan BUMN monopoli di Indonesia pada tahun 2004. Ada beberapa KPI korporate yang di berikan kantor pusat kepada kantor wilayah salah satunya ada yang memiliki bobot negatif. Tentu saja hal ini menyalahi prinsip-prinsip pengukuran kinerja. Akan tetapi karena sudah menjadi keputusan top manajemen akhirnya kantor-kantor wilayah mau tidak mau harus menggunakannya. Padahal di tahun-tahun sebelumnya bobot negatif tidak pernah digunakan pada BUMN tersebut.

Pada saat awal-awal implementasi sistem pengelolaan kinerja pemilihan metode pembobotan KPI juga menjadi salah satu sumber masalah selain data, penentuan target dan yang lainnya. Bobot dan skor KPI berpengaruh pada skor kinerja secara keseluruhan. Pembobotan secara langsung memiliki kesulitan dalam menentukan tingkat kepentingan setiap KPI pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Untuk menentukan tingkat kepentingan KPI harus melibatkan banyak orang yang berkepentingan pada organisasi tentu saja hal ini bukan suatu pembahasan yang mudah untuk menyatukan kepentingan setiap orang yang berbeda-beda tersebut.

AHP digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. AHP menentukan bobot dengan membandingkan setiap KPI dengan menggunakan metode perbandingan berpasangan. Pada setiap KPI akan dibandingkan tingkat kepentingannya dengan KPI-KPI yang lain. Pada akhirnya bisa diketahui bobot untuk masing-masing KPI. Akan tetapi AHP sangat sulit dilakukan secara manual tanpa menggunakan bantuan software jika jumlah KPInya banyak. Menggunakan AHP untuk 4 KPI masih mudah dilakukan dengan cara manual namun untuk KPI yang lebih banyak harus menggunakan software untuk mempermudahkannya.

Jika proses pengelolaan kinerja sudah berjalan dengan baik biasanya orang akan lebih mudah menggunakan pembobotan secara langsung karena tingkat kepentingan KPI-KPI sudah bisa diketahui.

Artikel terkait: Menggunakan metode Analytic Hierarchy Process, menentukan target KPI

technorati tags:, , , , , , ,

Blogged with Flock

14 thoughts on “Pembobotan KPI secara langsung atau dengan AHP ?

  1. Yth Bapak ….
    Saya tertarik dengan metode AHP yang Bapak sampaikan tetapi jika saya ingin mendapatkan softwarenya bagaimana caranya. Terima kasih atas batuannya
    Terima kasih
    Yurizal

  2. Bapak Yth…
    saya mahasisiwa jurusan teknik industri. sekarang sedang menyelesaikan skripsi dengan topik tentang studi pengukuran kinerja di sebuah perusahaan, yang mana salah satu pembahasan saya, saya memakai metode AHP..Sedangkan di kota saya kuliah ( kota Malang)sekarang tidak ada penyewaan software tentang metode ini..saya mohon bapak bisa membantu saya untuk mencarikan informasi untuk mendapatkan software yang saya butuhkan yaitu Decision Lens atau Promeasys

  3. #rosa isafa

    WEb-Hippre menyediakan versi demo dari software mereka (bisa digunakan namun kemampuannya dibatasi). Di rilis sudah lama sekali (tahun 1995). Versi demo tersebut bisa di download di sini.

    Semoga sukses dengan skripsinya.

  4. saya sedang bikin tugas akhir tentang BSC untuk suatu bank, yang saya tanyakan adakah rasio yang digunakan oleh bank untuk BSC selain CAR, NPL, ROA, ROE, NIM, BOPO, karena dosen penguji saya ingin lebih dari itu, ini baru untuk perspektif finansial, belum yang 3 perspektif lainnya, mohon bantuannya, trimakasih pa heru…

  5. pak, apakah dalam menentukan hasil akhir dari pengukuran kinerja suatu bank dengan BSC (misalnya kinerja bank adalah baik) ada standar yang digunakan? bagaimana cara menentukan bobot untuk setiap perspektif dalam BSC?

  6. assalamualaikum pak, saya ingin tanya.. tidak spesifik mengenai KPI. tapi apakah pembobotan dapat dilakukan pada persamaan yang ada pengurangannya?
    contoh, jika
    R = X1 + X2 – Y
    nah, apakah boleh jika X1 diberi bobot 40%, X2 diberi bobot 30%, dan Y diberi bobot 30%?
    mohon bantuannya ya pak.. terima kasih sebelumnya. wass.

  7. Aslkm. mas heru, saya lagi mengolah data kuisioner di expert choice.. responden saya ada 4 orang, nilai yg dimasukkan masing2 lalu stelah jadi saya bagi 4 atau menggunakan modus nilai kuisionernya?makasih banyak yaa..

  8. sy sedang dalam penyelesaiaan tugas akhir.. sebenarnya dalam TA sy harus menentukan Critical success factor (csf), apakah dalam penentuan faktor2 tersebut sebelumnya harus menggunakan KPI? saya sedang penelitian di sentra kerajinan tangan, jadi berbeda bgt dengan perusahaan2 besar.

    mohon bantuannya pak,, trimakasih banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s