Pepeling (Nasehat) dari pengamen bis …


Ojo ngece karo wong ora nduwe…
Rojo brono yen mati ora di gowo..
Bebasan urip mung mampir ngombe…
Ngunu kuwi jare simbahku dewe..

Dadi uwong ojo rumangsa bisa..
Luwih becik sing bisa rumangsa..

Yen numpak motor, asep’e metu ngisor..
Dadi wong luwih becik andhap asor…

Yen numpak andong, asep’e metu bokong..
Ojo plenggang-plenggong..mengko mundak koyo grandong..😀

Potongan syair di atas adalah lagu yang sering dinyanyikan oleh pengamen bis atau kereta api didaerah Jawa Timur. Saya biasanya sering mendengarnya ketika dalam perjalanan mudik ke Tulungagung. Dinyanyikan secara berkelompok 2-4 orang ataupun sendirian. Sebenarnya ada beberapa lagu yang akrab juga ditelinga cuman tidak saya tampilkan karena saya tidak hapal syairnya. Lagu diatas sebernarnya liriknya tidak lengkap. Banyak lagu-lagu yang dinyanyikan para pengamen termasuk juga lagu-lagu campursari yang populer, dan tentu saja lagu-lagu pop dan dangdut yang menjadi kegemaran negeri ini.

Pengamen jalanan dan pedagang asongan mereka mengais rejeki dari atas kendaraan umum. Tidak seperti saya, tak jarang mereka harus nyrempet-nyrempet bahaya di tengah jalanan yang terik. Ah..terkadang saya merasa kurang besyukur, karena sehari-hari saya bekerja di tempat yang sejuk..dimana suhu ruangan bisa diatur seenak hati, tidak takut kehausan karena minuman tinggal ambil di pantry. Ya Allah..mohon ampun, hamba kurang bisa bersyukur.

Bersama dalam satu kendaraan bersama mereka membuat saya sedikit banyak bisa merasakan kerasnya kehidupan di jalan. Setiap saat bahaya mengancam, entah itu di saat naik turun kendaraan yang tengah melaju kencang ataupun persaingan yang terjadi sesama mereka dalam berebut remah-remah rejeki. Downward social comparisson, kata-kata yang didengungkan oleh psikolog sekarang, melihat kondisi orang-orang yang hidup lebih susah dari kita. Ya..melakukan downward social comparisson akan membuat kita lebih menghargai hidup dan karunia yang telah kita nikmati serta menjadikan kita lebih kuat dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Downward Social Comparisson telah menjadi jargon sekarang, meskipun sebenarnya Nabi SAW sudah mengajarkanya kepada kita untuk berperilaku seperti itu beberapa abad yang lalu.

Kembali ke lirik lagu diatas, jika anda orang jawa mungkin sedikit banyak mengerti arti dari baris-baris lagu diatas. Jika anda tidak mengerti bahasa jawa, jangan khawatir di akhir postingan ini saya sertakan terjemahan dari lirik diatas. Meskipun dikemas dalam lirik yang sedikit banyol (guyonan) dan beling khas pengamen jalanan, lagu diatas memiliki arti mengingatkan kita semua akan tujuan hidup dan bertingkah laku yang baik.

Ojo ngece karo wong ora nduwe…
Rojo brono yen mati ora di gowo..
Bebasan urip mung mampir ngombe…
Ngunu kuwi jare simbahku dewe.

Ojo ngece karo wong ora duwe, jangan memandang rendah orang yang tidak punya. Jangan bersikap angkuh dan sombong karena engkau kaya. Rojo brono yen mati ora dibawa, sekaya apapun dirimu hartamu bendamu tidak akan dibawa ke liang lahat. Hidup itu hanya sebentar, mampir ngombe, hanya sekedar singgah untuk minum melepas dahaga perjalanan. Hidup didunia tidak lebih dari sekadar singgah, sementara perjalanan masih jauh. Dalam setiap nikmat yang kita miliki ada hak & kewajiban terhadap orang lain yang harus kita laksanakan.

Dadi uwong ojo rumangsa bisa..
Luwih becik sing bisa rumangsa..

Jangan menjadi orang yang merasa bisa melakukan semua hal. Setiap manusia memiliki keterbatasan. Sikap merasa bisa akan menjadikan orang sombong, memandang rendah orang lain. Akan lebih baik jika kita bisa menyadari kekurangan diri sendiri, meyadari bahwa masing-masing orang memiliki kekurangan. Menjadi orang yang bisa menyadari kekurangan dan kelebihannya, bukan orang yang merasa bisa.

Dadi wong luwih becik andhap asor, Lebih baik bersikap rendah hati, tidak sombong. Sombong hanya milik Allah, manusia pada dasarnya tidak memiliki apa-apa. Kita lahir dalam keadaan lemah, tidak memiliki apa-apa, kemudian Allah memberikan berbagai rejeki yang kita nikmati. Tidak sepantasnya manusia merasa besar kepala, bersikap rendah hati itu lebih baik.

Berikut ini terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Jangan menghina orang yang tidak punya…
Harta benda bila mati tidak akan dibawa…
Ibarat hidup hanya sekedar singgah untuk minum..
Demikian kata kakek saya…

Jadi orang jangan merasa bisa…
Lebih baik yang bisa merasa..

Kalau naik motor, asapnya keluar lewat bawah…
Jadi orang lebih baik bersikap rendah hati

Kalau naik dokar (kereta kuda), asapnya lewat pantat….
Jangan bengong..nanti bisa-bisa seperti Grandong
( Grandong adalah salah satu tokoh dalam cerita Misteri Gunung Merapi yang dulu ditayangkan di Indosiar)

Blogged with Flock

4 thoughts on “Pepeling (Nasehat) dari pengamen bis …

  1. Ojo ngece karo wong ora nduwe…
    Rojo brono yen mati ora di gowo..
    Bebasan urip mung mampir ngombe…
    Ngunu kuwi jare bini sepuh dewe..

    Dadi uwong ojo rumangsa bisa..
    nanging uwong sing bisa rumangsa..

    nek numpak sepurt asepe metu nduwur
    tiwas ajur mumur yen awak ora diatur

    Yen numpak motor, asep’e metu ngisor..
    Dadi wong luwih becik andhap asor…

    nek numpak becak asepe metu telak
    ojo nguyu ngakak yen urep lagi kepenak

    Yen numpak andong, asep’e metu bokong..
    Ojo plenggang-plenggong..mengko mundak koyo grandong.

    lagu selengkapnya search aja ajik wubang mp3……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s