Kentrung …


Anda warga atau pernah tinggal di tulungagung, kediri, blitar, tuban atau ponorogo ? Jika iya kenalkah anda dengan kentrung ? Mungkin ada diantara anda yang akan menjawab dengan ehm..kentrung itu apakah sejenis makanan atau minuman (gubrak…) ? Rasa-rasanya saya pernah mendengar nama kentrung.. Oh itu nama tetangga saya (waks… :-D ).

Wajar jika banyak diantara kita yang tidak lagi mengenal kentrung, salah satu kesenian yang dimainkan oleh sebuah grup dengan seperangkat alat musik yang terdiri dari Gendang, ketipung dan jidor. Kentrung adalah salah satu kesenian bertutur, seperti layaknya wayang kulit. Hanya saja kentrung tidak disertai adegan wayang. Sepanjang pementasanya kentrung hanya diisi oleh seorang dalang yang merangkap sebagai penabuh gendang dan ditemani oleh penyenggak yang menabuh rebana(jidor). Dulu kentrung banyak dipentaskan pada berbagai hajatan masyarakat seperti syukuran kelahiran anak, khitanan, pitonan, maupun mudun lemah.

Kentrung sarat akan nilai-nilai dakwah. Materi lakon-nya pada umumnya menceritakan tentang ketauladanan jaman khalifah empat, walisongo dan jaman mataram islam. Ada juga yang terkait dengan sejarah di pulau jawa yang banyak dipengaruhi oleh hindu dan budha. Diantara lakon-lakonnya yang populer adalah nabi yusuf, syeh subakir, amad muhamad, kiai dullah, amir magang, sabar-subur, marmaya ngentrung, sunan kalijaga, ajisaka dan babad tanah jawa. Selain itu kerap juga membabarkan mengenai nilai-nilai tasawuf dengan mengupas berbagai topik seperti purwaning dumadi, keutaman, kasampurnan urip, dan sangkan paraning dumadi. Kentrung juga sarat dengan pesan-pesan moral yang tercermin pada tembang-tembang kentrung, diantaranya Kembang-kembangan; kembang terong abang biru moblong-moblong, sak iki wis bebas ngomong, ojo clemang-clemong (bunga terong berwarna merah biru mencorong, sekarang ini sudah bebas berbicara, tetapi jangan celometan).

Prof Dr Suripan Sudi Hutomo dalam bukunya Kentrung mengatakan kesenian ini berkembang pada abad XVI di Kediri, Blitar, Tulungagung, Tuban dan Ponorogo. Versi awal kesenian ini cukup beragam. Ada yang menyebut Kentrung sebagai kesenian asli bangsa Indonesia. Namun versi lain mengatakan Kentrung berasal dari jazirah Arab, Persia, dan India. Yang pasti, sebagai sarana dakwah, pada masa kejayaannya kentrung diminati masyarakat. Kentrung mencapai jaman keemasannya pada tahun 1970-an hingga 1980-an. Selama dua dasawarsa itu hampir seluruh masyarakat yang berpesta mengudang Kentrung. Di awal 90-an, ketika televisi makin murah dan layar tancap menawarkan altenatif hiburan yang praktis, Kentrung mulai terseok.

Dari catatan seksi kebudayaan diknas tulungagung pada tahun 70-an hampir setiap desa di tulungagung memiliki kelompok kentrung. Namun saat ini hanya tinggal 1 saja yang masih bertahan. Diknas Tulungagung pernah menyarahkan agar kelompok-kelompok Kentrung tidak terpaku pada pakem, tapi menampilkan inovasi baru. Misal, mencampur dengan teknik penampilan kesenian lain, kalau perlu mengambil metode campursari. Lenyapnya apresiasi masyarakat, dan menyusutnya komunitas seniman Kentrung, juga mengakibatkan tidak terjadinya regenerasi dan pewarisan. Serbuan kesenian modern seperti layar tancap, dangdut, atau memutar VCD menjadi penyebab utama hilangnya kentrung di tengah masyarakat. Kentrung tidak sendiri. Kesenian tradisional lainnya; ketoprak, ludruk, langen tayub, jaranan, dan jathilan, juga mengalami nasib serupa. Namun khusus untuk Kentrung, jalan menuju kematiannya lebih disebabkan oleh sikap masyarakatnya yang lebih suka menjadikan kesenian sebagai tontonan, bukan tuntunan. Jadi, tidak aneh jika perilaku masyarakat sekarang juga berubah karena kesenian tidak lagi berisi tuntunan-tuntunan.

Meskipun sekarang ini kentrung mulai meredup, beberapa seniman muda mulai menggeluti kentrung dengan mengembangkan inovasi-inovasi baru seperti menggabungkanya dengan lawakan dan ludruk. Suatu usaha dari seniman muda yang patut mendapat dukungan dan apresiasi dalam melestarikan kentrung.

Rujukan Tulisan:

technorati tags:, ,

Blogged with Flock

24 thoughts on “Kentrung …

  1. kentrung adalah makanan sehari hari saya pada waktu itu (th 2000 – 2006)saya pernah bergelut dengan kentrung selama 7 th. walaupun saya bukan profesional di kentrung . saya pernah survei kentrung di blitar ,kediri, tulung agung, malang, surabaya , lamongan, Blero Malang adalah sanggar saya

    • Mungkin hanya persamaan nama aja ya. Suamiku dulu juga di blero malang. namae juga gendon. Tapi di blero, aq cma tau nama ipunk, madal, yang lain dah lupa. mengenal blero seolah membawa saya kembali ke jaman pacaran dulu. awal-awal kenal, aq sempat punya pikiran; bojoku koyok wong edan (ha ha haa ) Tp sekarang aq merasa senang karena bisa kembali ngenal blero yg pernah jd bagian dari hidup kami.
      Sukses yaaa ………..

  2. bicara mengenai kentrung selalu membuat hati kangen pikiran geli. bayangkan ada suara tapi jarang terlihat, kayak demit wae. cobalah untuk nanggab kentrung jangan hanya menjadi bahan pembicaraan aja. itung itung kasih apresiasi seni dan bagi rejeki bagi seniman kentrung ,biar mereka juga bs makan terus bisa ngentrung lagi.makan aja sulit apalagi mau ngentrung kan aneh.makanya ayo rame rame nanggab kentrung.biar kentrung gak punah gak hanya dalam bahan diskusi aja.OK .seniman kentrung gak prnh ngerti klo kta diskusi kentrung. tapi kapan ia dapat tanggapan, itu yang ia pikir.pemerintah pun juga harus pro aktif, jangan hanya bangga punya kesenian yang hampir hilang trus hanya di jadikan bahan diskusi aja. kerja dong realistis. nanti siapa yang rugi kalo kentrung sudah tak terlihat lagi di dunia. kan kita semua…kita harus tahu bahwa dalang kentrung kita saat ini mengalami krisis regenerasi dalang, panjak kentrung. ibarat makluk hidup sudah sulit untuk beranak. bisa beranak jika di silangkan dengan jenis lain. lihat aja kentrunk funky, kentrung jos, kentrung kentrung baru yang laen, mereka munkin hasil kawin silang dengan seni atau unsur laen,itupun gak masalah asalkan nafas kentrungnya masih ada. beda jauh dengansumeh di blitar, sari di blitar ,gimah di tulungagung, warsi di plosoklaten kediri,ataupun dalang dalang kentrung klasik yang laen. suatu hal yang mengasikan melihat kentrung dengan permen glali, jajanan kontol kambing,peli cino,krupuk upel,kacang godog,lihat bawa sarung hingga subuh datang. tapi sekarang lihat kentrung klasik sangat sulit apalagi makanannya. dah yaaa kapan lagi di sambung….ok

    • aku tertarik dg kentrung n aku butuh data n informasi lebih lanjut. bisakah membantu??? kalau berkenan, bisa kasih kontak untuk bisa saya hubungi, email mungkin…. makasi…

  3. apa kah rasa cinta ini hanya untuk dipandang ,dilihat,didengar.tentunya tidak sesederhana itu.pastinya yang namanya cinta adalah wujud kasih sayang pada sesuatu yang di implementasikan dalam berbagai aspek kehidupan.Merawat,perhatian,ngayomi,membibing jauh lebih ber arti dari pada hanya melihat, mendengar yang sifatnya hanya bersifat badaniah saja atau simpati saja.tetapi rasa dari hati,yang lebih ber-empati merupakan wujud sayang yang sejati.”Masuki dunianya dan rasakan..” Begitu juga dengan kesenian kentrung…masuki dunianya dan rasakan….Tidak ada larangan untuk sekedar melihat,mendengar sebuah kesenian kentrung.tetapi suatu kewajiban untuk selalu merasakan dengan hati yang paling dalam mengenai kesenian kentrung.jika kita adalah pemerhati sekaligus pecinta kentrung. memang cinta berasal dari mata,telinga lalu turun ke hati, begitu juga kentrung,lihat, dengar awas……..jatuh cinta kepda kentrung

  4. blero kapan angkat bicara……..katanya kentrung kreasi benyak bermuculan di sanggar blero malang. tapi aku salut pada kentrung blero.berasal dari seniman usia muda yang mencoba untuk mengentrung

  5. wah……………..
    kentrung tu menurut q asyk banget ya
    selain kita bisa ketawa saat melihatnya,itung2 kita juga melestarikan budaya tradisional
    q jadi tertarik pada kentrung n pingin banget bisa jadi salah satu dari lakonnya
    q seneng akhirnya bisa gabung dalam BLERO
    moga ja berawal dari sini q bisa ikut melestarikan kesenian ini
    BLERO JAYA TERUS Y
    JANGAN BIARKAN SALAH SATU DARI BUDAYA KITA INI MATI DITELAN JAMAN

  6. sory pake HP.
    ceritañ aku (ya! itu tu!) ama anak TA. ud 4 kali insy aq ksna lagi duch ngangnno. btw a, prnh tdr dMasjid jamik&kluar dini hari ke wrung pgr masjid sakti orgñ(keren!).prnh jg tuch tdr dStasiun dingin bgtss.tañ bnr ta org TA sakti2?whteverlah!parno sich jdñ.pokoké nuwun sewu ud ckp kn.kpn2 bs ktmuan?kykñ hbs skrpsi kTA.

  7. saya pernah maen ke bu gimah tulung agung
    kalo menurut saya kentrung bu gimah harus ada penerusnya dengan diturunkan secara nyantrik kepada panjaknya, n kalo boleh bilang silahkan maen ke sana bawakan oleh-oleh ngobrol-ngobrol tentang kentrung dan kesenian saya yakin dapat banyak ilmu dan yang penting bagaimana memotivasi mereka biar kehidupan mereka setidaknya ada pendukung . so guys ga ada salahnya . toh demi kesenian kesenian di negeri kita. n kentrung pada khususnya. salam perjuanagn untuk kebudayaan !!

  8. kentrung itu sesuatu yang indah, tempat berkreasi dan menyampaikan pesan sosial kepada para pendengar/penonton…salah satu hal yang saya sukai dalam bermain kentrung adalah saya bisa menyampaikan pesan moral yang ada dalam pemikiran saya sekaligus saya bisa menjalankan bisnis sosisal untuk membahagiakan para penonton.hehehehehe…..SALAM BUDAYA, MAJU TERUS KESENIAN TRADISIONAL DI REPUBLIK PANCASILA INI!

  9. Ping-balik: aplikasi pelatihan internet » Blog Archive » sejarah tulungagung

  10. Aq punya bayangan kalo nanti sunate thole nanggap kentrung gimana ya … Pasti seru deh. sbb di desa sy blm pernah ada yg nanggap kentrung. Pasti lain dr yg lain. Tp ….. ongkosnya mahal gak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s